Sarjana Pengaspalan

Anak-Anak Kita Hanyalah Anak Biasa-Biasa Saja

Akhir pekan kemarin, saya ada agenda pertemuan wali murid, istilah zaman sekarang mungkin "kelas parenting" kali ya. Everything was fun, wali murid ngasih outcome yang diharapkan bisa dicapai anak dalam satu bulan, latihan apa saja yang harus diberikan ke anak, worksheet untuk monitoring, dan detail-detail lain yang zuzur lebih masuk akal daripada rencana kerja di kantor .

Kemudian ada salah satu wali murid yang sharing pengalaman beliau dalam mendidik anak. Banyak pengalaman beliau yang bisa saya ambil pelajarannya. Tapi ada satu kalimat dari beliau yang langsung men-trigger saya. "Anak saya yang nomor 3 agak kurang ya kemampuan matematikanya, tapi jiwa sosialnya kuat." Yang saya tangkap dari kalimat tersebut adalah:

Setiap anak memiliki bakat masing-masing. Sehingga, tugas orang tua adalah menemukan apa bakat anak dan melatihnya.

Howard Gardner dan 7 jenis kecerdasan

Mungkin kita sudah sering mendengar, membaca, atau melihat video tentang 7 kecerdasan yang diusulkan oleh Howard Gardner di tahun 1983. Menurut beliau, kecerdasan itu bisa dibagi jadi 7 (jadi 8 sih, setelah revisi).

  1. Musical
  2. Visual-spatial
  3. Linguistic
  4. Logical-mathematical
  5. Bodily-kinesthetic
  6. Interpersonal
  7. Intrapersonal
  8. Naturalistic (tambahan di tahun 1995)

Secara umum saya cukup sepakat dengan teorinya Om Gardner. Dari beberapa buku dan kursus online yang saya ikuti, sepertinya memang ada kecenderungan alami (mungkin dipengaruhi faktor genetik) yang membuat seseorang merasa lebih nyaman pada satu atau beberapa jenis kecerdasan. Meskipun demikian, saya masih curiga bahwa realitanya jauh lebih kompleks dan tidak bisa langsung dipisahkan menjadi 8 kotak yang berdiri sendiri-sendiri.

Nah, tidak menutup kemungkinan bahwa pada masa awal perkembangan, seorang anak akan cenderung memilih jalur pembelajaran yang terasa paling mudah bagi otaknya. Sayangnya, saya melihat beberapa orang tua menganggap kecerdasan bawaan ini sebagai bakat, kemudian terlalu fokus untuk mengembangkannya.

Fun fact, Howard Gardner sendiri tidak pernah mengasosiasikan 7 jenis kecerdasan dengan cara belajar. Om Gardner mengembangkan teori ini sebagai alternatif terhadap pandangan yang saat itu dominan. Dulu, orang menganggap kecerdasan itu seperti processor tunggal besar yang bertugas multi fungsi. Nah, Gardner ingin membuat alternatif model bahwa kecerdasan itu lebih seperti beberapa processor kecil yang memiliki tugas mengolah hal-hal spesifik di area tertentu (baca link di bagian akhir post). Jadi penggunaan teori ini sebagai "cara belajar" saja sudah berbelok dari tujuan awal. Apalagi jika teori ini langsung diterjemahkan menjadi ide "setiap anak memiliki satu bakat yang harus ditemukan". Saya rasa ide itu tidak cuma menyimpang, tapi sudah berbalik arah 🤣.

Otak yang terus beradaptasi (neuroplasticity)

Ada teori dari Donald Hebb yang (kalo dimodifikasi dikit) berbunyi

"Neurons that fire together, wire together. Neurons that out of sync lose their link."

Hubungan antar neuron dan synapse, sumber: Neuroscience Openbook - Michigan University

Ketika neuron (sel otak) A mengaktivasi neuron B secara terus-menerus dan persisten, maka synapse (sambungan) kedua neuron tersebut akan mengalami penguatan. Sebaliknya jika neuron A tidak pernah mengaktivasi neuron B, maka synapse di antara keduanya akan melemah. Bahkan ketika benar-benar tidak digunakan, otak akan melakukan pemangkasan jalur dari kedua neuron tersebut. Tapi jangan khawatir, ada juga kabar baik bahwa otak ternyata juga bisa membuat jalur baru antara dua neuron yang tidak pernah terhubung. Kemampuan otak untuk memperkuat memperlemah, membentuk synapse baru, dan memangkas jalur ini disebut dengan neuroplasticity.

Misal ada dua kota A dan B yang dipisahkan oleh hutan belantara. Awalnya kedua kota itu hanya dihubungkan oleh jalur setapak. Jika ternyata jalan penghubung kota A dan B sering dilalui orang, maka peningkatan jalan dari jalan setapak menjadi jalan kerikil, kemudian naik jadi jalan aspal, sampai ke jalan tol adalah pilihan yang logis. Begitu juga sebaliknya, kalau tidak pernah dipakai, untuk apa mati-matian mempertahankan jalan tol antara dua kota yang memerlukan biaya maintenance besar tapi tidak pernah dipakai? Untuk apa mati-matian mempertahankan MB... ah, sudahlah.

Okay, sekarang kembali ke kondisi di mana anak-anak masih berada pada masa awal perkembangan. Bakat bisa diibaratkan seperti kontur tanah bawaan antara dua kota. Misal dari kota A dan B itu konturnya rata, membangun jalan tol penghubung akan sangat mudah. Di kasus lain, misal kota C dan kota B itu dipisahkan pegunungan dan sungai-sungai. Sehingga, proyek pembangunan jalan tol di antara kota C dan B itu butuh effort lebih banyak dibandingkan dari A ke B.

Yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana perkembangan hubungan dua kota tersebut seiring berjalannya waktu. Ketika masyarakat di kota A tidak pernah merasa butuh ke kota B, maka tidak akan pernah ada jalan tol di antaranya. Di sisi lain, ketika masyarakat kota C sering ke kota B, maka mereka akan mati-matian membuat terowongan dan membangun jembatan agar ada jalan tol di antara kedua kota itu.

Disclaimer dikit: saya bukan ahli neurologi atau psikologi, jadi analogi saya tentang otak ini jangan ditelan mentah-mentah 😛

Anak kita (kemungkinan besar) biasa-biasa saja

Sekarang kita banting setir (lagi) ke topik lain. Mari bertanya, kira-kira berapa banyak anak yang benar-benar jenius? Berapa banyak anak yang sejak kecil sudah menyelesaikan kalkulus, memainkan piano setingkat konser, atau menjadi grandmaster catur di usia belasan tahun?

Saya pernah melihat profil Suborno Isaac Bari yang bisa menyelesaikan persamaan polinomial ax2+bx+c pada usia sekitar dua atau tiga tahun. Mari jujur pada diri sendiri, apa yang anak kita bisa lakukan pada umur dua sampai tiga tahun? 🤣

Untuk mempermudah ilustrasi, mari kita anggap kemampuan matematika dalam suatu populasi mengikuti distribusi normal.

kurva distribusi normal

Kurva distribusi normal, sumber: wikimedia

Manusia-manusia seperti Suborno Isaac Bari, Carl Friedrich Gauss, Leonhard Euler, Srinivasa Ramanujan, John von Neumann, dan Terrence Tao adalah orang-orang yang berada di ujung kanan, hanya 0,1% dari populasi seluruh dunia. Mereka benar-benar spesial. Mungkin begitu lahir, koneksi antar neuron untuk bagian otak yang meng-handle matematika sudah siap untuk dibangun jalan tol atau bahkan sudah ada pondasi stasiun kereta cepat (ingat: saya bukan ahli neurologi, jangan dianggap terlalu serius analogi saya).

Manusia biasa (termasuk saya, Anda yang sedang membaca, serta anak cucu kita) berada di rentang 1σ sampai +1σ atau sekitar 68,2% dari populasi. Memang ada beberapa kondisi seperti down syndrome, Fragile X syndrome, microcephaly, dan kondisi lain yang membuat seseorang berada di bawah rentang 1σ. Tapi secara umum, saya rasa tebakan bahwa kita ada di sekitar area rata-rata itu cukup akurat.

Apakah jika seorang anak terlahir tanpa bakat sekelas Suborno Isaac Bari itu berarti jelek?

Kalau anak-anak saya terlahir dengan bakat seperti Suborno Isaac Bari, saya rasa mereka tidak terlalu membutuhkan saya. Dunia akan menemukan mereka cepat atau lambat. Yang benar-benar membutuhkan peran orang tua adalah anak-anak yang berada di populasi rata-rata (68,2%). Anak-anak yang tidak langsung terlihat jenius, tetapi juga tidak memiliki hambatan berarti. Anak-anak yang masa depannya sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat di rumah, guru yang mereka temui, buku yang mereka baca, dan latihan yang mereka lakukan selama bertahun-tahun.

Seperti saya bahas di atas, bakat itu hanyalah satu faktor. Faktor lain yang jauh lebih realistis untuk dikejar adalah faktor repetisi dan persistensi. Jika seseorang sangat berbakat untuk menjadi jenius musik tapi seumur hidup belum pernah menyentuh alat musik, bisa dipastikan akan kalah dengan orang biasa-biasa saja yang setiap hari berlatih 8 jam dengan instrumen musiknya.

Berita buruknya, jangan berharap terlalu besar anak kita akan menjadi the next Gauss di Matematika, Einstein atau Feynman di Fisika, Magnus Carlsen dan Gary Kasparov di catur, Mozart di dunia musik, atau seperti Ronaldo (bukan Cristiano Ronaldo, ya) di sepakbola.

Berita (sangat) baiknya, hal ini berarti sebagian besar anak malah memiliki begitu banyak kemungkinan. Arah perkembangan mereka akan jauh lebih dipengaruhi oleh apa yang mereka pelajari, latih, dan ulangi selama bertahun-tahun daripada oleh bakat bawaan semata.

Penutup

Mari kembali ke statement yang saya dengar tadi.

Setiap anak memiliki bakat masing-masing. Sehingga, tugas orang tua adalah menemukan apa bakat anak dan melatihnya.

Menurut saya, statement ini terlalu membatasi perkembangan anak. Untuk saya pribadi, saya lebih cocok mendidik anak dengan prinsip ini.

Karena kemungkinan besar anak-anak saya tidak memiliki bakat spesifik seperti Suborno Isaac Bari, maka tugas saya bukan mencari-cari bakat itu. Tugas saya adalah membangun lingkungan yang memberi kesempatan bagi banyak kemampuan untuk tumbuh. Harapannya, peluang mereka untuk menjadi sangat kompeten di bidang apa pun menjadi jauh lebih terbuka lebar.

Sementara, meracaunya cukup sekian dulu. Terima kasih sudah membaca tulisan panjang ini.


Barangkali ingin baca lebih lanjut: