Sarjana Pengaspalan

Geologi dan Bangsa yang Mudah Retak

Tidak pernah terbayang dalam kepala saya setahun yang lalu bahwa saya akan bisa membaca gambar DED, apalagi sampai memahami diagram lintang, momen, dan normal dalam analisis struktur. Tapi akhir-akhir ini, di sela-sela kesibukan kantor, saya mendapati diri saya sedang memelototi monitor, melakukan fine-tuning pada model Revit, hingga terkadang sok-sokan melakukan analisis struktur di SAP2000 atau ETABS.

Revit project

Sok-sokan bikin analisis struktur terhadap gempa wkwkwk 🤣

Meskipun banyak hal yang harus dikorbankan (termasuk waktu untuk menulis dan membaca), ada kepuasan intelektual tersendiri saat akhirnya saya bisa melihat beban yang bekerja pada sebuah balok, atau bagaimana sebuah struktur mendistribusikan beban dari pelat lantai ke balok, dilanjutkan ke kolom, hingga akhirnya ke fondasi yang ditopang oleh bumi. Ada juga kepuasan melihat panel informasi bahwa tidak ada clash di model Revit buatan saya, yang artinya model tersebut sudah bisa digunakan untuk menghitung volume material secara presisi. Tapi, di balik kekaguman saya terhadap rumitnya bangunan sipil, saya menemukan sebuah analogi menarik yang jauh melampaui urusan konstruksi bangunan.

Di mata kuliah Geologi dan Geoteknik lalu, saya mendapatkan tugas untuk menyusun sebuah paper tentang geologi struktur. Di situ, saya menemukan bahwa dalam struktur geologi, dikenal istilah lipatan (folding) dan rekahan (fracture). Lipatan terjadi karena lapisan batuan mengalami deformasi lentur (ductile deformation)1 sedangkan rekahan terjadi karena lapisan batuan mengalami deformasi getas (brittle deformation). Apa itu ductile dan brittle deformation?

Contoh sederhana tentang ductile deformation dan brittle deformation adalah cokelat batangan yang baru keluar dari kulkas. Ketika masih dingin, cokelat cenderung mudah untuk patah (brittle), sedangkan ketika suhunya sudah sama dengan suhu ruangan, cokelat akan lebih mudah untuk dibengkokkan (ductile). Ada beberapa variabel penting di sini, tiga diantaranya adalah strain rate (kecepatan regangan), suhu, dan waktu.

Secara umum, kita selalu ingin negara ini berkembang ke arah yang lebih baik. Kita ingin fasilitas pendidikan yang baik, jaminan kesehatan ketika sedang sakit, dan kepastian lapangan kerja setelah selesai menempuh pendidikan. Tapi anehnya, sepertinya bangsa ini lebih suka pada perubahan yang justru membuat keretakan dalam struktur. Kita jatuh cinta dengan brittle deformation.

Obsesi Terhadap yang Instan

Dalam geologi struktur, ada variabel yang disebut strain rate (laju regangan). Strain rate adalah ukuran seberapa cepat kita memberikan tekanan pada suatu material.

Bahkan batuan yang paling keras sekalipun, jika diberi tekanan yang sangat lambat di bawah suhu dan tekanan yang tepat, batuan itu dapat meliuk seperti naga. Itulah mengapa kita bisa melihat lipatan gunung yang artistik di tebing-tebing alam. Alam punya waktu jutaan tahun, jadi dia tidak terburu-buru.

Masalahnya, di Indonesia, kita benci hal-hal yang pelan.

Kita ingin transformasi digital selesai dalam semalam. Kita ingin regulasi baru langsung mengubah perilaku orang dalam sebulan. Kita ingin pembangunan fisik yang langsung terlihat sebelum periode jabatan pimpinan berakhir. Kita memaksakan strain rate yang sangat tinggi pada struktur sosial kita.

Hasilnya? Ya, deformasi getas. Kita tidak berubah secara organik. Perubahan yang terjadi menimbulkan keretakan. Ketika sebuah sistem (baik itu hukum, ekonomi, atau pendidikan) ditekan melampaui batas elastisitasnya secara mendadak, sistem itu tidak punya waktu yang cukup untuk menyusun struktur internalnya agal tetap stabil. Alih-alih meliuk mengikuti perubahan zaman, sistem di negara kita sering kali justru patah dalam bentuk polarisasi, konflik horizontal, atau (bahkan lebih parah) merembet merusak sistem yang lain.

Berikutnya, berikan suhu yang tepat.

Dalam mekanika batuan, suhu bukan sekadar angka di termometer. Suhu yang tinggi memberikan energi kinetik pada tingkat molekuler, memungkinkan atom-atom dalam mineral untuk berpindah posisi (rekristalisasi) tanpa harus mematahkan struktur keseluruhannya. Di dunia manusia, suhu ini adalah analogi dari panasnya diskursus, kualitas literasi, dan keterbukaan dialog.

Tanpa suhu yang hangat, artinya tanpa masyarakat yang teredukasi dan ruang dialog yang terbuka, tekanan kebijakan/perubahan sehebat apa pun hanya akan menghasilkan gesekan yang memicu api konflik, bukan perubahan bentuk yang harmonis. Perubahan sosial yang dipaksakan dalam kondisi dingin (masyarakat yang apatis atau tidak paham) pasti akan berakhir sebagai brittle deformation.

Dan yang terakhir namun sama pentingnya, kita butuh variabel waktu.

Secara teknis, ductility adalah tentang memberi kesempatan pada material untuk melakukan stress redistribution (redistribusi tegangan). Batuan butuh ribuan bahkan jutaan tahun untuk membentuk lipatan anticline yang megah atau syncline yang dalam. Mereka tidak buru-buru. Para batuan ini menikmati setiap mikrometer pergeseran yang mereka alami.

Anticline dan syncline

Anticline dan syncline

Di Indonesia? Kita sering kali menuntut hasil instan tanpa memedulikan fase adaptasi. Kita lupa bahwa kebijakan publik, kurikulum pendidikan, hingga sistem perpajakan yang ingin seperti standar internasional (baca: Coretax) itu ibarat organisme yang butuh waktu untuk meresap ke dalam sumsum perilaku masyarakat. Menuntut perubahan instan tanpa memberikan waktu untuk adaptasi (contoh: implementasi Coretax yang mendadak wkwkwk) adalah resep sempurna untuk menciptakan keretakan di bidang sosial dan ekonomi. Kita mungkin berhasil melakukan perubahan secara administratif, tapi secara struktural, kita hanya sedang menumpuk patahan-patahan tersembunyi yang mungkin akan memicu gempa di masa depan.

Penutup (untuk sementara)

Mungkin kita perlu belajar dari batuan di kedalaman bumi. Menjadi luwes itu butuh proses yang membosankan. Perubahan yang instan itu biasanya rapuh. Sesuatu yang cepat saji biasanya cepat basi. Jadi, terkadang tidak semua perubahan itu harus cepat, sat-set, das-des, tapi ujung-ujungnya malah cuma dar-der-dor (asal tembak). Terkadang kita perlu berjalan perlahan-lahan.

Meskipun demikian, dalam melakukan perjalanan perlahan-lahan ini ada hal-hal penting yang harus dijaga. Menjaga konsistensi langkah meskipun lelah dan bosan serta reviu rutin (yang beneran, bukan cuma formalitas) perlu dilakukan untuk memastikan bahwa arah perjalanan yang kita lakukan tetap konsisten dengan tujuan awal kita.


  1. Deformasi Lentur? Serius saya bingung mau pake istilah apa di Bahasa Indonesia, antara liat, kenyal, lentur, atau ulet. Saya gak nemu entri duktil atau daktil di KBBI. Kenapa hal-hal yang lebih sering dipake malah gak ada di KBBI? Kenapa entri kapitil, (yang benar-benar gak kepikiran gimana dan kapan makenya), justru ditambahkan?