Sarjana Pengaspalan πŸŽ“

Kindle Jailbreak: Merdeka dari Tirani Korporasi

Sudah sering saya melihat feed artikel tentang orang-orang yang melakukan jailbreak Kindlenya. Kebanyakan rela melakukan jailbreak karena Amazon menghentikan support untuk Kindle model lama.

Jujur, sebetulnya sudah lama saya ingin melakukan jailbreak Kindle Paperwhite saya juga. Bahkan sebetulnya saya sudah kepikiran untuk melakukan jailbreak sejak tahun 2024 ketika sebuah firmware update wajib dari Amazon tiba-tiba membuat home screen baru. Home screen yang baru itu menggantikan daftar koleksi buku yang saya miliki menjadi laman "recommended for you". Jadi lebih mirip landing page Amazon daripada perpustakaan pribadi.

Namun, waktu saya baca-baca sekilas, sepertinya step jailbreak itu terlalu ribet untuk orang seumuran saya. Mungkin jika saya masih berumur dua puluhan, saya akan langsung gas tanpa pikir panjang (jadi inget oprek custom ROM Android jaman dulu 🀣). Tapi saya yang sekarang sudah gak mau barang-barang yang ribet. Pinginnya yang simpel-simpel aja.

Nah, tadi pagi, sebuah artikel tentang VΓ©ra melintas di feed berita. VΓ©ra adalah sebuah script untuk jailbreak Kindle yang bisa dilakukan langsung dari Kindle tanpa harus dicolok ke PC. Karena penasaran, saya coba ikuti langkah-langkahnya. Dan ternyata, dalam waktu kurang dari 30 menit saya berhasil lepas dari belenggu Amazon πŸŽ‰.

jailbroken-kindle

Spoiler

Ternyata tetep butuh colok ke PC sih. Tapi proses colok ke PC hanya diperlukan untuk langkah membuat dummy file sehingga storage dalam kondisi 99% penuh. Tujuannya supaya automatic update dari Amazon gak ke-trigger di tengah-tengah proses jailbreak.

Setelah di-jailbreak, sekarang saya bisa langsung membuka file .epub dan .cbz pakai KOReader tanpa harus mengkonversi menjadi ekstensi yang bisa dibuka oleh reader bawaan Kindle. Beberapa jam mencoba KOReader di Kindle, saya sudah mulai merasakan sisi positif dan negatifnya.

Positif

Negatif

Overall, saya cukup puas dengan proses jailbreak ini. Memang hasilnya tidak seindah harapan awal, tapi selalu ada harga yang harus dibayar dari sebuah keputusan.

Kalau 81 tahun yang lalu Indonesia merdeka dari penjajahan, 81 tahun setelahnya saya mendeklarasikan diri merdeka dari belenggu korporasi. Semua ada plus minusnya. Kini saya berada pada posisi paradox of choice, terlalu banyak opsi sampai bingung ini Kindle mau saya setting bagaimana. Indonesia pun juga begitu. Setelah merdeka dan memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya, saya merasa bangsa Indonesia masih berada di persimpangan kebingungan ingin menjadi bangsa yang seperti apa.

Oke, mari berhenti di sini sebelum saya meracau ke mana-mana. Terima kasih sudah membaca.

MERDEKA!