Kontemplasi Seorang Pemburu Takjil
Keluarga Pemburu Takjil
Saya teringat salah satu kelas parenting online yang pernah saya ikuti. Waktu itu topiknya justru tentang bagaimana menjaga pernikahan itu sendiri. Yang saya ingat, ada 6 poin penting yang dibahas di situ. Yang pertama adalah agree on common principles and goals, yang terakhir adalah create small traditions. Yang kedua sampai kelima saya lupa 😛.
Ketika kemarin anak saya minta secara spesifik untuk berbuka di suatu masjid yang sering kami singgahi, saat itulah saya baru sadar bahwa ternyata ada tradisi (yang lumayan gak penting) yang selama ini sudah saya bangun di keluarga saya.
Kami sudah terbiasa menjadi pemburu takjil yang singgah dari masjid ke masjid.
Kebiasaan ini bermula karena saya tidak ingin anak saya seperti saya. Bisa dibilang kalau saya memiliki sedikit “alergi” terhadap masjid karena dulu waktu kecil sering dimarahi di masjid. Akhirnya, empat tahun yang lalu, saya dan istri sepakat untuk iseng-iseng mengajak anak berbuka di masjid kemudian menghabiskan waktu di situ hingga selesai tarawih dan witir. Namanya anak-anak, ketika diajak jalan-jalan pasti selalu semangat. Harapan saya sih, semoga ada rasa excitement yang muncul ketika bulan Ramadan tiba. Karena Ramadan berarti momen jalan-jalan dari masjid ke masjid.
Tiga tahun berikutnya, ketika Ramadan tiba, mereka selalu semangat setiap kali diajak berbuka puasa di luar. Setelah saya perhatikan, ada satu momen yang selalu mereka ceritakan setiap Ramadan. Momen di mana mereka bertemu dan berkenalan dengan beberapa anak kemudian bermain lari-larian bersama di waktu antara Maghrib dan Isya. Dari sekian banyak masjid, harapan saya adalah setidaknya ada satu memori positif yang terbawa hingga mereka dewasa. Memori bahwa masjid adalah tempat yang menyenangkan. Jangan seperti saya yang sampai sekarang menganggap masjid sebagai tempat yang “terlalu sakral” dan kaku, sampai rasanya canggung kalau sering-sering dikunjungi untuk hal selain ibadah formal.
Tradisi Padusan dan YouTube Recommendation
Masih seputar tradisi Ramadan. Waktu saya kecil, di daerah kami ada tradisi Padusan (mandi sebelum bulan Ramadan). Saya ingat di kampung kami, tradisi ini bergeser arahnya. Yang awalnya rasanya sakral kemudian bergeser menjadi ramai-ramai pergi ke kolam renang atau ke mata air.
Saya sendiri sudah tidak tahu apa tradisi ini masih ada atau sudah hilang. Saya sudah lama meninggalkan kampung saya karena pekerjaan.
Tapi, esensi tradisi ini saya bawa hingga sekarang. Sebelum Ramadan, minimal saya beres-beres sedikit, baik secara lahir maupun digital. Selain rumah yang rapi, membersihkan folder Download, Desktop, dan merapikan inbox email juga menjadi perhatian saya. Beberapa waktu lalu, saya membaca ulang post dari Herman (owner dari bearblog). Di bagian tentang YouTube, saya merasakan hal yang sama dengan Herman, bahwa waktu saya banyak terbuang begitu saya membuka YouTube. Rekomendasi dari YouTube selalu sukses menghabiskan waktu saya. Ketika awalnya saya berniat mencari tutorial Revit, dua jam kemudian saya sering berakhir di video Key and Peele, tanpa progress apapun di Revit.
Akhirnya saya memutuskan untuk menghapus history YouTube dan mematikan rekomendasi berdasarkan history. Selama kurang lebih seminggu ini, flow YouTube saya jadi jauh lebih terstruktur.
- Kalau ada video yang menarik dari channel yang saya subscribe, saya masukkan ke daftar Watch Later.
- Ketika ada waktu senggang, saya mulai skimming video-video di daftar Watch Later.
- Di proses skimming video ini saya hapus video-video yang kurang penting menurut saya, jadi tinggal tersisa video-video yang sudah terkurasi.
- Ketika waktu yang benar-benar longgar, saya menonton secara utuh video-video di Watch Later.
- Setelah itu baru saya putuskan apakah video tersebut layak saya masukkan playlist yang permanen yang sudah saya bagi berdasarkan kategori.
Dengan flow ini, saya berhasil mengurangi keinginan menonton semua video dari creator favorit saya sebut saja seperti Veritasium, Gita Wirjawan, Kurzgesagt, Sabin Civil Engineering, Balkan Architect, The Reading Chamber, dan channel-channel lainnya. Video di channel-channel tersebut menurut saya sangat bermutu tinggi. Meskipun demikian, akhirnya saya menyadari bahwa saya tidak akan punya waktu yang cukup untuk menonton semua video mereka. Secara sadar, saya harus melakukan kurasi video yang akan saya konsumsi.
Meluruskan Niat
Masih dalam suasana Ramadan. Biasanya, kita selalu diingatkan oleh Imam dalam khotbahnya untuk selalu meluruskan niat ketika memasuki bulan Ramadan. Bahwa amalan-amalan di bulan Ramadan itu harus diniatkan untuk ibadah, tidak sekadar ikut-ikutan daripada kena nyinyir tetangga.
Kemudian saya membawa isi khotbah itu kembali ke niat saya menulis. Apakah sebetulnya tujuan saya menulis? Pertanyaan ini muncul setelah saya membaca tulisan ini. Setelah beberapa jam bertanya ke diri sendiri dalam kamar yang gelap, akhirnya saya ingat bahwa pada prinsipnya saya ingin menulis untuk diri saya di masa depan. Agar suatu saat seorang Sarjana Pengaspalan (mudah-mudahan besok sudah Magister Beton Tahan Wereng), saya akan membaca tulisan ini dan ingat bagaimana pola pikir saya berkembang.
Saya tidak berangkat menulis agar tulisan saya dibaca orang lain (kalau toh dibaca dan ada manfaatnya bagi orang lain, saya bersyukur karena akhirnya pernah menjadi orang yang sedikit berguna). Meskipun bearblog sangat minimalis dan tidak menampilkan fitur komentar, ada satu fitur yang mulai mendistraksi tujuan awal saya. Ada tombol upvote yang mau tidak mau selalu saya lirik. Dan jujur saja, selalu ada keinginan untuk menambah jumlah upvote atau sekadar membandingkan dengan post yang lain.
Kalau memang niatnya hanya untuk diri sendiri, kenapa harus dipajang di ruang publik? Kenapa tidak ditulis di jurnal pribadi saja? Kenapa malah nulis di blog kemudian sambat tentang tombol upvote?
Jawabannya sederhana. Dengan membawa tulisan ini ke ranah publik, saya menaruh standar beban yang lebih tinggi pada diri saya. Saya memaksa diri untuk tidak menulis secara asal-asalan. Ruang publik membuat saya harus merapikan alur logika, menyaring emosi yang mentah menjadi refleksi yang matang, dan memastikan bahwa seorang M.BTW. di masa depan bisa membaca pikiran seorang S.Pal. dengan jelas dan runtut.
Dan akhirnya, saya memutuskan untuk menghilangkan tombol itu dari setiap post saya. Mudah-mudahan dengan hal sederhana ini, niat saya untuk menulis kembali lurus.
Terima kasih untuk yang sudah menyempatkan diri untuk membaca. Mudah-mudahan Ramadan tahun ini membawa kita semua menjadi pribadi yang lebih baik dan dewasa.