Sarjana Pengaspalan 🎓

Shampoo, Kondisioner, dan Hair Serum

Pengantar singkat

  1. Saya meng-upload seluruh blog saya ke ChatGPT untuk dianalisis sebagai satu korpus.
  2. Temuannya adalah, ada pola di yang cukup konsisten dari beberapa post di blog saya. Semua bermula dari hal kecil, kemudian naik ke level yang lebih abstrak. Bahasa gampangnya, selalu ngadi-ngadi 😬
  3. ChatGPT juga menemukan kejanggalan. Ada beberapa post dengan kesimpulan yang dipaksakan di beberapa tulisan. Saya harus jujur bahwa itu semua adalah kesalahan saya ketika menjadikan GPT sebagai editor dan menuruti semua saran GPT. FYI, Model LLM memiliki tendensi untuk selalu membuat "kesimpulan" untuk setiap gagasan dan "smoothing" antar ide.

Jadi, sekarang saya mencoba membuat tantangan untuk diri sendiri. Kali ini saya akan menulis freestyle tanpa GPT (oke deh, tetap pakai GPT buat koreksi typo aja) sambil menjaga diri agar tidak naik ke level abstraksi.

Bismillah mudah-mudahan berhasil.


Objek eksperimen:

Kondisi eksperimen:

Hasil

Shampoo

Shampoo ini dibelikan oleh istri. Kebetulan rambut kami berdua sama-sama kering dan cenderung ikal. Istri saya bilang kalo shampoo ini manjur banget buat menghilangkan ketombe dan beliau menyuruh memberikan rekomendasi kepada saya untuk memakainya. Karena saya berusaha menjadi suami yang baik, tentu saja dengan senang hati saya menerima saran dari istri tercinta. Meskipun demikian, sebenarnya di dalam hati saya lebih memilih dua shampoo. Yang pertama adalah shampoo Clear yang baunya sudah saya kenal sejak SD, dan yang kedua adalah shampoo Pantene Total Damage Care. Sayangnya, kedua produk ini sudah masuk blacklist istri saya yang bilang "Free Palestine!". Mau gak mau saya harus mengikuti apa pilihan beliau sebagai On-Duty Manager dalam kehidupan berumah tangga sehari-hari.

Kondisioner

Juga dibelikan istri sepaket bareng shampoo dan hair serum (kayanya waktu lagi promo). Sebenernya saya curiga ketiga pilihan ini cuma gara-gara promo, bukan mencari solusi terbaik atas permasalahan rambut kering. Anyway, kalo saya boleh memilih, lagi-lagi saya memilih kondisioner Pantene yang menurut saya terasa sangat lembut setelah keramas. Tapi ya sudahlah, di urusan seperti ini, laki-laki punya kuasa apa 🥲. Satu-satunya nilai positif dari kondisioner ini adalah bahwa kondisioner ini jauh lebih baik daripada buatan Citra. Saya pernah mencoba Citra dan hasilnya sangat jauh di bawah ekspektasi (pribadi) saya.

Sedikit catatan. Sampai saat ini, sebenarnya kondisioner favorit saya (telak mengalahkan Pantene) adalah Makarizo Black Chocolate. Sumpah baunya enak banget. Tapi karena jarang ketemu di Indomaret dan Alfa, saya biasanya mengambil Pantene.

Hair Serum

Untuk hal ini saya berada pada posisi agak netral. Saya terbiasa pakai hair vitamin Ellips. Nah, hair serum dari Makarizo ini baunya cukup menyenangkan, lebih enak dibandingkan Ellips. Di sisi lain, entah mengapa saya merasa ujung rambut saya masih terasa kering dibandingkan dulu-dulu waktu pakai Ellips. Agak berbeda dengan Ellips yang biasa saya pakai. Jadi, pilihan istri saya masih bisa saya terima.

Kesimpulan

Setelah kombinasi ketiga produk di atas dicoba dalam kondisi eksperimen selama kurang lebih sebulan, saya tidak merasakan perubahan yang signifikan. Ujung rambut saya masih terasa kering ketika disisir. Ketika saya menggelengkan kepala, rambut masih belum bisa berkibas seperti di iklan shampoo zaman dulu (gak tau sekarang di TV masih ada iklan shampoo gak).

Kesimpulan sementara adalah kombinasi ketiga produk tersebut tidak memiliki dampak signifikan terhadap kondisi rambut dengan pengukuran subjektif (berdasarkan perasaan). Perlu dilakukan eksperimen baru (pergi ke salon misalnya) dan/atau analisis lebih lanjut (konsultasi dengan kapster salon misalnya) untuk mencari solusi permasalahan rambut kering dan sulit diatur seperti rambut saya ini.


Alhamdulillah, berhasil menutup post ini tanpa teori aneh-aneh. Emang agak berat sih, tapi mau gak mau harus dipaksa.

Terima kasih sudah membaca.