Sarjana Pengaspalan

Tentang Kedaulatan Berpikir

Percakapan di dalam mobil beberapa waktu lalu waktu menjemput istri dari sebuah acara.

Istri: "Mas, tadi aku duduk di samping mahasiswi informatika."

Saya: "Wah, satu spesies. Cocok lah ngobrolnya."

Istri: "Terus dia tanya, 'Mbak, dulu kan belum ada AI, ya? Terus kalo ngoding berarti Mbak ngetik beneran gitu?' Lah, emang sekarang ngoding itu gak pakai ngetik ya?"


Istri saya memang sudah lama tidak memegang laptop apalagi sampai harus membuka program IDE macam Visual Studio ataupun Eclipse. Sekarang dia lebih paham bagaimana cara memasak biar tetap gurih tanpa micin dibandingkan cara mengatasi memory leak di sebuah program. Meskipun demikian, saya masih memiliki keyakinan yang cukup kuat bahwa kalau terpaksa disuruh ngoding, dia akan membuka dokumentasi dulu untuk mempelajari syntax, native functions, dan hal-hal dasar lainnya sebelum mulai memindahkan flowchart ke codingan.

Istri saya tidak pernah membayangkan akan mendapat pertanyaan seperti tadi dari seorang mahasiswi di jurusan informatika. Mungkin saya juga akan sama kagetnya kalo ada mahasiswa akuntansi yang tanya ke saya, "Mas, kalo bikin laba rugi itu harus bikin buku besar dulu ya?" Di titik itu saya sadar, yang aneh bukan pertanyaannya, tapi cara berpikir di baliknya.

Dari percakapan absurd di dalam mobil tadi, saya melihat ada lapisan abstraksi yang sudah terlalu tebal di era sekarang ini. Idealnya, teknologi ada untuk mengambil alih urusan kasar, supaya manusia punya ruang lebih untuk ide dan imajinasi. Biarkan mesin mengurus detailnya, agar manusia bisa fokus pada filosofinya, kira-kira seperti itu jargon yang sering saya dengar. Tapi, mendengar cerita istri saya tadi, saya merasa bahwa kita sedang berada di titik di mana para kreator mulai kehilangan hubungan intim dengan material-material yang mereka gunakan dalam bidang keahliannya.

Aritmatika, Aljabar, Abstraksi

Saya merasa butuh kerangka untuk menjelaskan rasa janggal ini, dan entah kenapa saya menemukannya di buku yang sama sekali tidak membahas komputer. Sambil menyetir pulang, saya teringat bagian buku Madilog yang saya baca ketika menunggu istri saya selesai acara (tentu saja bacanya di coffee shop terdekat biar lebih kalcer 😎)

Tan Malaka menjelaskan bahwa matematika adalah ilmu yang unik karena sifatnya yang abstrak. Dalam biologi, istilah lobus parietal merujuk langsung pada bagian otak yang bisa dipegang. Tapi angka "2" dalam matematika tidak melekat pada benda apapun. Dua bisa berarti dua sapi, dua gelas kopi, atau dua orang. Ia adalah simbol murni.

Namun, di dalam dunia matematika sendiri, ada tingkatan abstraksi yang lebih tinggi lagi.

Pertama, kita mengenal aritmatika, sebuah proses konkret mengoperasikan bilangan melalui tambah, kurang, kali, atau bagi. Lalu ada aljabar, di mana bilangan yang sudah abstrak tadi dibuat menjadi lebih ghoib lagi. Bilangan yang belum diketahui diganti dengan variabel x, y, z, atau simbol Yunani yang cara membacanya saja sulit. Aljabar sebenarnya adalah generalisasi dari aritmatika.

Dan di buku Madilog ini, Tan Malaka berpendapat bahwa aljabar tidak seharusnya dipakai jika seseorang belum menguasai aritmatika. Aritmatika saja sudah cukup abstrak, apalagi kalo harus disuruh melompat ke ranah aljabar yang tambah abstrak. (Sementara cukup sampai di sini saja pembahasan hal abstraknya, gak usah naik ke kalkulus 🤮)

Dan kita bukan lagi melompat dari aritmatika ke aljabar, tapi langsung ke jawaban 😛

Meskipun baru menjadi satu-satunya sampel sehingga belum bisa diambil kesimpulan, mahasiswi informatika tadi bisa jadi adalah indikasi awal dari "lompatan berbahaya" yang akan semakin sering terjadi. Ketika teknologi menawarkan kemudahan abstraksi tanpa menuntut pemahaman fundamental tentang bagaimana elemen di bawahnya bekerja, kita sedang menciptakan generasi kreator yang bergantung pada "kotak sihir".

Manusia akan tahu cara memasukkan input dan secara ajaib mendapatkan output, tapi buta sama sekali tentang proses di antaranya. Mudah sekali membuat prompt untuk menghasilkan tulisan, codingan, seni (gambar, musik, video), dan hal-hal lain. Tapi bagi saya, seorang kreator yang tidak lagi punya hubungan intim dengan material keahliannya adalah awal dari sebuah tragedi intelektual.

Penutup: Antara Efisiensi dan Kedaulatan Berpikir

Saya bukan orang yang anti-teknologi, apalagi anti-otomatisasi. Sebaliknya, saya adalah orang yang sangat benci dengan pekerjaan repetitif. Saya tidak akan segan membuat VBA di Excel untuk menghitung lapisan pajak penghasilan yang membosankan, atau menyusun alur Dynamo di Revit untuk menamai ratusan balok sloof secara otomatis.

Namun, saya memegang satu prinsip tegas. Bahwa saya harus memiliki kedaulatan penuh atas proses creation dan problem solving yang saya lakukan. Bahwa AI, VBA, atau script apapun hanyalah alat untuk mempercepat tujuan yang sudah saya pahami prosesnya. Tanpa teknologi itu pun, pekerjaan harus tetap bisa berjalan, meskipun tentu akan jadi luar biasa lambat dan menjengkelkan.

Teknologi adalah opsi, bukan keharusan. Mengapa? Karena manusia lah yang memikul beban tanggung jawab dari sebuah keputusan, bukan mesin. Jika sebuah bangunan runtuh atau ada kesalahan perhitungan dalam perpajakan, kita tidak bisa menyalahkan algoritma di depan hukum. Maka, sudah selayaknya kedaulatan berpikir tetap ada di genggaman manusia, bukan diserahkan sepenuhnya pada kotak ajaib yang langsung menghasilkan jawaban.

Tambahan Setelah Penutup

Sebenarnya, kegelisahan saya soal hilangnya kedaulatan berpikir ini merembet jauh ke mana-mana. Banyak hal di masa sekarang yang saya rasa mirip dengan kondisi London di novel Brave New World (yang sedang saya baca secara paralel dengan Madilog). Saya juga teringat film Idiocracy, sebuah film satir tahun 2006 yang ternyata jadi kenyataan di masa sekarang. Tapi, kayanya mending saya rem dulu di sini sebelum tulisan ini berubah jadi esai lima bab 😛.

Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa sebentar lagi puasa 😬