Kutipan dari Madilog
Rasanya sudah lama tidak menulis di sini. Dan ternyata memang sudah dua minggu lebih saya tidak corat-coret di bearblog. Selain karena kesibukan di kantor (damn you, coretax!), ternyata setelah saya list, saya punya 11 side projects yang kayanya cuma beberapa aja yang bakal survive sampai selesai wkwkkw.
Anyway, hari ini saya baru sempat pegang lagi buku Madilog setelah tertunda oleh buku-buku yang lain. Setelah saya baca-baca lagi sticky notes di buku itu, sepertinya ada beberapa hal yang menarik untuk saya kutip. Jadi, daripada gak ada bahan buat nulis, saya masukin aja isi sticky notes saya ke blog ini 😛. BTW, saya membaca versi cetakan pertama dari penerbit Anak Hebat Indonesia (2024).

“Orang mesti makan dahulu sebelum berpikir, kata Friedrich Engels” (hlm. 42)
No debat lah masalah ini. Dan topik ini adalah hal yang selalu saya pertanyakan setiap kali mendengar ide-ide brilian dari orang-orang seperti Gita Wirjawan, Bagus Muljadi, Malaka Project, The Reading Chamber, dan lain-lain. Apa bisa masyarakat kita diajak berpikir sedangkan kebanyakan orang Indonesia itu masih “lapar”.
“Bagi pemikir sosial, walaupun dialektika dan logika yang diutamakan, tetapi cara berpikir yang dipakai oleh ahli matematika juga tiada percuma kalau diketahui. Hal ini seperti halnya pemain sepakbola yang tiada rugi kalau dia mempelajari tenis dan berenang. Begitu juga pemikir sosial pada siapa Madilog dipusatkan akan bertambah kecerdasannya kalau ia mempelajari dan memahami cara yang dipakai matematika.” (hml. 47)
Pada prinsipnya saya sepakat dengan hal ini. Saya merasa di Indonesia ini ilmu terlalu dikotak-kotakkan (lihat kutipan berikutnya). Dan yang paling parah, matematika sendiri sering hanya dianggap sebagai ilmu hitung. Padahal, mengutip TEDx dari Sujiwo Tedjo belasan tahun lalu, matematika itu bukan tentang menghitung. Matematika itu adalah bahasa formal yang berbicara tentang konsistensi dan kesepakatan.
“Sudah tentu satu ilmu dengan yang lain ada seluk beluk dan perhubungannya. Ilmu alam dan ilmu kimia mesti diketahui ahli yang mempelajari ilmu kedokteran … Ilmu kedokteran sudah dipecah menjadi kedokteran umum, perkara gigi, telinga, mata, anak-anak, dan sebagainya. Hal tersebut bahaya untuk sains, kalau pecahan-pecahan itu pada ilmu yang sudah banyak akan pecah terus sehingga tidak lagi mengetahui perhubungan satu ilmu dengan yang lain.” (hlm. 43)
Ternyata puluhan tahun yang lalu, keresahan saya sudah diwakili oleh tulisan Tan Malaka 😁.
“Pada aritmetika, kalau kita lihat 2 + 2 = 4, maka tiada lagi kita pikirkan bahwa dua itu hanya bilangannya, nomornya, salah satu dari sifat barang itu, bukan benda itu sendiri … 2 itu boleh jadi 2 kerbau ataupun 2 telur. Kita tahu kalau 2 kerbau + 2 telur, kita tidak akan mendapatkan 4 kerbau ataupun 4 telur. Angka 4 itu hanya bilangan. Satu hal yang terpisah dari benda dan hanya ada dalam pikiran abstrak.” (hlm. 55)
“Bagaimanapun abstraknya aljabar, dia berdasarkan aritmetika juga, dan aritmetika itu pun berdasarkan benda. Tetapi, guna mengambil contoh untuk menjelaskan cara berpikir, tentu kita tak boleh memulai dari ilmu yang sudah abstrak, yang sudah sampai tingkat atas itu.” (hlm. 56)
Salah dua kutipan yang sangat saya suka dari bagian awal buku ini. Pernah juga saya tulis di post ini. Saya melihat matematika itu justru sangat erat kaitannya dengan abstraksi dan filosofi, bukan sekadar “ilmu pasti”.
“Menurut keterangan kaum terpelajar Tionghoa kepada saya; sejak dahulu kala He-Siu, pendeta buddhis Tionghoa, mendaftarkan kejadian alam, hujan, panas, dingin dan sebagainya setiap hari, bulan, dan tahun. Jadi, penaksiran yang jitu sama sekali berdasarkan atas perbandingan dengan yang sudah ada. Jika dahulu begitu maka sekarang pun begitu juga, satu logika yang sering mengandung bahaya yang bisa menyesatkan. Bukanlah akibat kesimpulan hukum dari ilmu iklim yang berhubungan dengan pressure (tekanan udara) dan temperature (panas dingin). (hlm. 86)”
“… ahli Tionghoa banyak mempunyai bukti-bukti yang benar. Ingat saja, obat bedil dan pedoman yang berasal dari Tiongkok! Tetapi, bukti tadi bercerai berai, tidak disusun dan diperumumkan, tidak digeneralisasi sampai ke pintu ilmu. Penyebabnya?” (hlm. 87)
Ada dua hal yang menarik di sini.
Yang pertama, saya melihat adanya perbedaan cara pewarisan sejarah antara China dengan Indonesia. Di China, ilmu kuno itu cenderung didokumentasikan secara tertulis, sedangkan di Indonesia, cenderung diwariskan secara lisan (entah betul atau tidak hipotesis saya ini, sepertinya saya perlu berdiskusi lebih dalam dengan ahli sejarah).
Yang kedua saya agak sedikit berseberangan dengan Tan Malaka. Menurut saya, ilmu titen (hasil pengamatan) yang sering terdengar di masyarakat Jawa tidak sepenuhnya salah. Hasil pengamatan selama ratusan tahun belum tentu lebih jelek dibandingkan penelitian formal, tanpa mengindahkan kearifan lokal, yang mungkin baru berjalan beberapa tahun. Menurut saya jauh lebih baik ketika hasil ilmu titen tersebut dikaji ulang dalam penelitian yang lebih terstruktur. Contohnya adalah letak keraton Yogyakarta yang dibahas oleh Bagus Mulyadi di video ini. Harusnya banyak kearifan lokal yang dikaji secara lebih ilmiah oleh bangsa kita.
Tapi balik lagi, kalo masih lapar tentu saja gak bisa mikir 😛
“… bahwa pada matematika dan ilmu alam dasar dan menengah, besar sekali kekuasaan logika. Sedangkan pada matematika dan ilmu alam tertinggi, kita terutama mesti lari pada dialektika.” (hlm. 112)
Pada suatu kesempatan di tahun 2024, saya pernah berdebat berdiskusi dengan senior saya tentang “ilmu pasti” dan “ilmu seni”. Argumen saya pada waktu itu adalah pada hierarki tertinggi, yang dianggap “ilmu pasti” ini ujung-ujungnya lari juga ke ranah filosofi, ke ranah “rasa”. Di kutipan ini, saya menangkap ide yang sama dari Tan Malaka, bahwa pada tataran tertinggi, yang dianggap ilmu pasti pun selalu dikaji ulang dalam dialektika, tidak hanya berhenti pada tataran logika dan sistematika penyelesaian yang kaku.
Sementara itu dulu kutipan-kutipan menarik yang saya catat dari buku ini. Mudah-mudahan ada lebih banyak insight yang akan saya dapat dalam proses menyelesaikannya.
Terima kasih sudah membaca.